Hidup hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak kendor dalam menjalani dinamika yang ada. Tantangan bukan untuk dikeluhkan, namun dicarikan solusi demi sukses di masa depan.

Yoga Irama, 21 tahun, terlahir dari keluarga menengah, bahkan kurang mampu. Hal tersebut dibuktikan dengan “profesi” yang dijalani sang ayah. Sehari-hari, hanya berjualan sayur keliling. Sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Bahkan setiap hari, sang ibu juga membantu untuk turut menjaga dagangan sayur demi menambah pemasukan harian.

Meski dari keluarga kurang mampu, semangat Yoga Irama dalam menuntut ilmu tak pernah padam. Dirinya berkeyakinan bahwa derajat seseorang akan sangat ditentukan oleh dua hal utama yakni imam dan mereka yang memiliki pengetahuan lebih. Di tengah keterbatasan income orang tua, cita-citanya sangatlah mulia yakni kelak ingin menjadi dosen.

Kini, pria asal Bojonegoro ini tengah menjalani kuliah semester lima di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Jurusan yang diambil adalah Akidah dan Filsafat Islam di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.

Awal kuliah adalah masa yang sulit. Guna menutupi kebutuhan hidup dan kuliah, bujang kelahiran 25 November 1997 ini harus berjualan kerudung, masker, dan aneka kebutuhan perempuan lain. “Kalau jam kosong kuliah saya nawarin ke teman dari kelas ke kelas,” kata Yoga Irama kepada media ini mengisahkan.

Memasuki pertengahan semester dua, dirinya mendapat informasi dari dosen tentang beasiswa bernama Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS), sebuah program Baznas Jawa Timur.

Awalnya, sang dosen menanyakan latar belakang keluarganya. “Gara-garanya di kelas saya terlihat tidak punya semangat meneruskan kuliah karena memang terkendala biaya,” tutur sulung dari dua bersaudara ini.

Akhirnya ia diberi informasi serta dibantu untuk memanfaatkan SKSS tersebut. “Saya daftar, alhamdulillah dapat,” katanya dengan muka berbinar. Baginya, beasiswa yang diperoleh ibarat oase di tengah kegersangan harapan.

“Kalau tidak ada program SKSS mungkin saya sudah putus kuliah sejak semester tiga,” sambung alumnus Madrasah Aliyah Islamiyah At-Tanwir Talun Sumberrejo Bojonegoro tersebut.

Kendati telah memperoleh kepastian biaya, ia tidak berpangku tangan. Seraya kuliah, ia mengisi waktu mengajar di SMPN 46 Surabaya dan guru ngaji di TPQ Baitul ‘Ilmi Siwalankerto Surabaya. (Hady/Syaifullah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *