Surabaya — Hidup sendiri tak menyurutkan niat perempuan ini untuk terus berusaha. Yang pasti jangan sampai keberadaan diri menjadi beban orang lain. Senyampang ada ikhtiar, tentu akan ada tambahan rezeki.

Sudarmi (59) merupakan salah seorang pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM yang memperoleh manfaat dari bantuan dana dari Baznas Jatim. Kendati tidak besar, namun dengan keuletan yang dimiliki, bisa memutar dana untuk melancarkan usaha toko kelontong yang digeluti.

Perempuan yang telah lama ditinggal sang suami karena meninggal ini tinggal di kawasan Dukuh Kupang Surabaya. Ibu tiga anak tersebut aktivitas setiap harinya adalah membuka toko kelontong untuk menyambung hidup.

“Pelanggan saya adalah para tetangganya sendiri. Barang yang saya jual dari mulai kopi saset, gula, rokok, rebusan, buah-buahan dan sejenisnya,” katanya.

Ditinggal sang suami sejak 2002 dan anak-anak yang lebih memilih bersama keluarga, membuatnya harus rela hidup sendiri. Saat media ini berkunjung, ternyata baru pulang dari luar kota.

“Sekarang memang belum buka karena masih baru datang dari Jember, biasanya di sini banyak buah-buahan digantung,” ungkapnya. Sementara untuk tempat peracangannya berada di ruangan kecil pas di depan dapur.

Awalnya media ini tidak begitu yakin kalau Sudarmi tinggal di kawasan tersebut sesuai alamat yang tertera. Karena sewaktu sampai di mulut gerbang, rumah di kanan kiri terlihat megah dan banyak mobil pribadi diparkir. Namun ketika sampai di rumah nomor 40, tampak rumah sederhana ukuran 6 x 5 meter berdampingan dengan masjid.

Dari perbincangan tersebut, perempuan ini ingin sekali memiliki kulkas untuk tempat buah jualannya.

“Namun untuk sementara belum terwujud karena uangnya belum cukup,” akunya.

Sembari menunggu toko, dirinya juga berupaya mencari tambahan pemasukan.

“Sembarang pekerjaaan saya lakoni daripada nganggur. Kadang ada orang memesan nasi kotak, tentu saja dilayani yang penting ada kegiatan dan menghasilkan,” ungkapnya.

Di lingkungan tinggal, Sudarmi dikenal sebagai penjualan rebusan. Karena setiap pagi memang rebusan itu yang disediakan.

“Sehingga kalau ada orang tanya nama saya ke tetangga sekitar pasti mereka bilang yang jualan rebusan,” akunya.

Memang berat hidup di Surabaya apalagi harus menanggung biaya anak yang sedang sekolah. Saat tiba saatnya membayar kebutuhan sekolah, selaku kepikiran.

“Waktu mau tidur, saya mikir kok hidup saya susah sekali ya,” jelasnya.

Namun dirinya tidak mau menyerah. Dengan mencoba aneka cara dan berdoa, agar mendapat rezeki, alhamdulillah semua bisa dilalui.

Di tengah himpitan ekonomi tersebut dirinya bersyukur lantaran berhasil menuntaskan studi tiga anaknya. “Alhamdulillah, anak saya tiga-tiganya sekolah semua, bahkan yang nomor dua itu sarjana ekonomi, sementara yang ketiga sekarang sudah bekerja,” ungkapnya.

Dirinya juga menyempatkan dalam sebulan untuk mengikuti pengajian di Islamic Center tepatnya pada minggu ketiga. Siapa sangka justru dari pengajian ini dirinya memperoleh bantuan dari BAZNAS Jatim.

“Sehingga kemudian ada petugas datang ke rumah untuk mensurvei dan kemudian memberi bantuan untuk tambahan modal itu,” kenangnya. Karenanya ia merasa sangat beruntung dan mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan BAZNAS Jatim.

Sudarmi memiliki keyakinan kehidupannya akan bertambah baik. “Saya yakin akan hal tersebut,” pungkasnya. (Syaifullah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *