Bondowoso – Pendataan yang detil dan jeli, cukup penting. Lebih-lebih dalam mendata anak yatim yang akan memperoleh santunan. Sebab jika ada yang bolong alias terlewatkan (dari pendataan), maka tentu mereka merasa tersisihkan. Itulah yang terjadi dengan 4 anak yatim bersaudara di Desa Gubrih, KecamatanWringin, Kabupaten Bondowoso. Mereka harus gigit jari saat anak yatim yang lain diundang ke Pendopo Bupati Bondowoso untuk menerima santunan dari Baznas, beberapa hari lalu.

Namun Baznas Kabupaten Bondowoso cukup sigap. Tak pakai waktu lama, begitu mendengar informasi soal anak yatim yang ‘tertinggal’ itu, mereka langsung diundang ke kantor Baznas. Dengan diantar  neneknya,  Hanati, keeempat anak yatim itu melangkahkan kakinya, mendatangi Kantor Baznas Kabupaten  Bondowoso untuk menerima santunan.

“Sudah, mereka sudah kita panggil. Mereka juga berhak menerima santunan seperti yang lain.  Mereka dikasih voucher belanja untuk baju di toko Amanah, dan voucher belanja beli sandal di toko Idola,” tukas Ketua Baznas Kabupaten Bondowoso, KH Muhammad Junaidi di kediamannya, Ahad (2/6).

Ia menjelaskan bahwa keempat anak yatim tersebut memang luput dari pendataan untuk menerima santunan bersama 500 anak yatim lainnya di Pondopo Bupati Bondowoso beberapa waktu lalu. Menurutnya, untuk soal pendataan waktu itu diserahkan kepada tiap-tiap kecamatan.

“Jadi kita tinggal menerima data dari kecamatan, dan itulah yang kita beri santunan. Tapi ternyata beberapa hari kemudian, ada berita ada empat anak yatim di Gubrih, yang terlewatkan,” terangnya.

Oleh karena itu, Kiai Junaidi  mengaku langsung mengontak perangkat kantor Kecamatan Wringin untuk memastikan kabar itu, dan mendata anak yatim yang  tececer itu, sehingga akhirnya mereka medapat santunan juga. Sekarang clear semua. (Aryudi AR/Syaifullah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *