Tulungagung – Pemerintah Kabupaten Tulungagung memberikan bantuan bedah rumah bagi warganya yang kurang mampu. Salah satunya adalah Kadis, warga Kelurahan Bago.

Sebelumnya Kadis hanya tinggal di sebuah rumah seadanya berbentuk layaknya tenda, beratapkan genteng. Setelah diubah, bangunan berukuran 3 kali 5 meter ini sudah mempunyai dinding semi permanen dan lebih layak disebut sebagai hunian.

Dalam rumah Kadis pun juga sudah dilengkapi alas tidur berupa kasur, kemudian meja kursi dan lemari.

“Ini sebagai bentuk kepedulian kita kepada masyarakat kita yang kurang mampu,” ujar Bupati Tulungagung Maryoto Birowo, Selasa (7/7) setelah memberikan kunci rumah secara simbolis.

Sementara itu Kepala Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Tulungagung, KH Muhammad Fathurro’uf menuturkan jika bantuan serupa sudah disalurkan ke keluarga kurang mampu selama 4 tahun terakhir ini.

“Nilainya 10 juta, setahun yang lalu masihRp 7 juta sekarang meningkat Rp 10 juta,” ujarnya.

Selain bantuan bedah rumah, pihaknya juga menyalurkan bantuan untuk warga miskin sebatang kara sebesar Rp 300 ribu perbulan. BAZNAS Tulungagung setiap tahun mengelola dana dari masyarakat sebesar Rp 3 miliar.

Pihaknya berharap agar dana yang terkumpul bisa lebih dibanding saat ini. Pihaknya meminta agar Bupati segera menerbitkan peraturan daerah tentang uang zakat di lingkup ASN Tulungagung. Meski diakui saat ini sudah berjalan, namun belum maksimal.

“Sekarang sudah berjalan tetapi belum maksimal,” ujarnya.

Sementara itu penerima bantuan bedah rumah, Kadis mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas bantuan yang diberikan.

“Kulo matur suwun sanget pun didamelaken griyo kaleh pak Bupati (Saya mengucapkan terima kasih sudah dibuatkan rumah oleh pak Bupati),” tutur Kadis dengan bahasa Jawa yang kental.

Sebelumnya tempat berteduh Kadis mirip dengan poskamling, beratapkan genting namun tak memiliki dinding. Kadis tinggal sendiri dan tidak mempunyai anak kandung, namun pria ini mempunyai 2 anak angkat yang dirawatnya sejak kecil. “Tinggal sendiri,” ujarnya singkat.

Tanah yang ditempati rumah berteduh Kadis pun bukanlah miliknya. Tanah ini milik warga sekitar yang peduli dengan kondisi Kadis.

“Saya ngenger tanahe Pak Beno (saya numpang di tanahnya Bapak Beno),” pungkas Kadis. (Syaifullah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *