Surabaya – Tersebarnya virus Corona benar-benar memukul perekonomian warga. Mereka yang menyandarkan hidup dari sektor informal, harus memutar cara agar bisa mendapatkan pemasukan. Pada saat yang sama, dikeluarkan aturan terkait pembatasan kegiatan di luar rumah.

Setidaknya itu yang dirasakan Susilowati. Perempuan yang setiap hari bekerja sebagai penjual makanan ini harus berjibaku dengan aturan yang tidak mendukungnya.

Saat suasana normal, Ibu Susi, sapaan kesehariannya menerima pesanan nasi bungkus dan kotak dari Masjid Al-Falah Surabaya. Banyaknya jamaah yang shalat maupun kegiatan lain, pada saat yang sama memunculkan gerakan menyediakan nasi bungkus.

Sejumlah orang kaya dan berkecukupan akhirnya menghubungi takmir masjid untuk menyalurkan dana yang nantinya dapat diwujudkan dengan nasi bungkus untuk jamaah.

“Nah, dari gerakan ini kemudian takmir masjid menghubungi Ibu Susi,” kata Muhammad Rasyid Ridha Pratama.

Pria yang menjadi tim pendamping dari Baznas Jatim untuk penyaluran bantuan modal kepada sejumlah pelaku UMKM tersebut menjelaskan bahwa usaha Ibu Susi semakin berkembang.

“Apalagi banyak jamaah yang berdonasi, sehingga pesanan nasi kian bertambah,” jelas Rasyid.

Namun ibarat pepatah untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Corona akhirnya meluluh lantahkan segalanya. Masjid yang biasanya menerima orderan Ibu Susi akhirnya ditutup. Bayangan keuntungan yang sudah di mata, akhirnya menguap diterpa angin.

Seakan tidak ingin bergantung kepada masjid, maka usaha lain dilakukan dengan membuka kesempatan jualan di sekitaran jalan utama Kota Surabaya. Akan tetapi karena kerap dilakukan penutupan jalan, maka tidak banyak pengendara yang lewat. Praktis, bergantung dengan kondisi jalanan juga kurang mendukung.

 

Harapan dari Baznas

Akan tetapi, Ibu Susi tidak harus meratap terlalu lama. Hal tersebut terjadi karena Baznas berkenan melakukan pemesanan paket menu berbuka dan sahur selama Ramadan.

“Ada 70 paket yang harus disiapkan Ibu Susi, baik untuk menu sahur dan berbuka,” kata Rasyid. Orderan dilakukan selama tiga kali dalam sepekan.

Yang menarik, untuk pendistribusian 70 paket yang ada, tidak harus menunggu pihak lain. Melainkan dibagikan kepada tetangga sekitar yang memang layak menerima. Dengan demikian nasi yang ada bisa dinikmati tetangga kanan kiri yang ada di sekitar kediaman Ibu Susi.

Kendati demikian, program ini akan segera berakhir seiring dengan Ramadan yang segera purna. Dengan demikian, dirinya akan berhadapan dengan kondisi sama sebelum memperoleh orderan dari BAZNAS.

“Yang harus dipikirkan adalah bagaimana membantu perekonomian Ibu Susi yang terdampak Corona pasca Ramadan,” harap sarjana Ekonomi Islam Universitas Airlangga Surabaya tersebut. (Syaifullah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *