Surabaya — Universitas Airlangga (Unair) Surabaya bukan pilihan utama bagi Christian Dhanang Pradipta. Semula, ia ingin melanjutkan kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogykarta. Jurusan yang ia minati adalah hubungan internasional atau arkeologi.

Tetapi ibunya kurang berkenan dan menyuruhnya kuliah di kota sendiri agar tidak jauh darinya. Maklum, Dhanang anak tunggal, dan ibunya hanya tinggal seorang diri.

“Alhamdulillah saya diterima di Universitas Airlangga dengan jurusan Ilmu Sejarah melalui jalur SNMPTN,” ujarnya kepada media ini.

Dhanang bersyukur bisa diterima sekaligus bingung. Pada awal masuk kuliah, Ia harus membayar untuk Uang Kuliah Tunggal (UKT) sangat mahal untuk ukuran Dhanang mengingat ibunya hanya berjualan es batu. Uang Kuliah Tunggal atau UKT pada saat semester awal sebesar Rp. 2.500.000.

Tetapi, Dhanang dan ibunya bingung harus mencari uang ke mana lagi. “Karena pinjaman ibu sudah menumpuk untuk menutupi biaya hidup sehari-hari,” kata pria kelahiran Surabaya, 30 Juni 1999 ini mengenang dengan mata berkaca.

Jalan selalu tersedia. Di tengah kebingungan itulah ia mendapati sebuah brosur di mading kampus. Brosur berisi informasi beasiswa Baznas. Seketika itu, Dhanang bersama ibunya menuju Kantor Baznas Jawa Timur untuk meminta kejelasan informasi mengenai beasiswa dimaksud.

“Alhamdulillah pada saat itu saya bertemu dengan bapak Chandra yang sudah kenal baik saya dan ibu saya, bersama dengan pak Rizal dan Pak Sulaiman. Dan pada akhirnya saya diminta untuk mengurus berbagai formulir untuk mendaftar menjadi bagian dari Beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS),” kisahnya.

Waktu itu, Dhanang sudah membayar UKT terlebih dahulu hasil uang pinjaman dari saudara dan ia pun berharap-harap cemas mendapatkan beasiswa atau tidak. “Pada hari efektif kuliah saya mendapatkan whatsapp dari Baznas yang menandakan bahwa saya diterima dalam beasiswa Baznas,” jelasnya.

Dhanang semula penganut ajaran Nasrani. Sejak kelas 5 SD, ia bersama ibunya berpindah agama menganut Islam. Ia pun ingin mengubah namanya ke Muhammad dengan nama Christian. Namun, saat itu sangat ribet. Oleh karena itu, ia tidak jadi menggantinya hingga saat ini. “Biarlah nama ini menjadi sebuah pengingat agar saya selalu senantiasa ingat kepada Allah SWT,” tegasnya.

Dalam beasiswa Baznas, Dhanang mengaku tidak hanya mendapatkan uang kuliah. Melainkan berbagai macam ilmu yang bermanfaat. Seperti leadership, survey, dan berbisnis. Kelak setelah lulus sarjana, ia ingin menjadi seorang sejarahwan atau fotografer profesional. (Hay/Syaifullah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *