Sidoarjo — Setiap orang berharap dapat menikmati hari tua dengan suka cita. Jerih payah kala muda dapat dirasakan hasilnya di sisa usia. Namun gambaran hidup senang di akhir perjalanan, terkadang tidak seindah yang diangan. Realita kadang berkata lain.

 

Gambaran tersebut setidaknya yang dapat dirasakan Mbah Warni atau yang akrab disapa Mbah Nii. Perempuan tua yang kini berusia 80 tahun lebih tersebut justru tidak mampu tersenyum lepas di penghujung usia. Betapa tidak? Kini dirinya tinggal bersama Wardi yang tidak lain adalah anak lelakinya bersama sang istri. Padahal Wardi sendiri sudah lama tidak bekerja karena sejak 2015 silam terkena penyakit stroke. Hidup prihatin dijalani di rumah tua berukuran 4 m persegi di jalan Ikanspat no. 16 Desa Tambak Rejo Kecamatan Waru Sidoarjo.

 

Sebenarnya Mbah Nii mempunyai dua anak, satu tinggal bersama dirinya sementara yang satunya lagi ada di Perak Surabaya. Menurut penuturan cucunya Mai Sulis, kondisi kesehatan Mbah Nii akhir-akhir ini sering sakit-sakitan.

 

“Ya mas, nenek sering sakit dan punya penyakit rematik dan hipertensi. Maklum sudah tua,” tutur Mai Sulis. Memang kalau melihat sepintas kondisi fisik Mbah Nii sangat kurus, dibalut rambutnya yang seluruhnya memutih.

 

Pernah juga memeriksakan kondisi kesehatan, namun itu sudah lumayan lama. Dan sekarang boleh dikatakan jarang, apalagi tidak suka gonta-gonti dokter. “Sudah jarang periksa kesehatan, karena kalau sudah cocok ke salah satu dokter tidak mau pindah ke lainnya,” cerita sang cucu.

 

Sementara ketika ditanya tentang kegiatannya setiap hari, lulusan SMA itu mengungkap bahwa neneknya biasanya jadi tukang sapu. “Biasanya disuruh menyapu rumah warga,” tuturnya.

 

Mengenai upah yang didapat dari jasanya ini, ternyata cukup beragam. “Saya kurang tahu mas, karena nenek sendiri yang menerima. Kadang ada yang memberi tiga puluh ribu hingga lima puluh ribu rupiah,” jelasnya.

 

Untungnya, ada perhatian dari Badan Amil Zakat Nasional Jawa Timur (Baznas Jatim). “Alhamdulillah, saya senang sekali. Ini bisa dibuat kebutuhan sehari-hari dan juga berobat,” tutur sang nenek sambil tertawa kecil.

 

Dirinya juga tidak ingat, berapa jumlah uang yang diterima secara rutin tersebut. “Wah, sudah lupa jumlahnya dapat berapa,” akunya dengan logat Jawa.

 

Saat berada di gubug tua tersebut, tampak sejumlah perabotan ditata sedemikian rupa di atas ranjang yang penuh bantal dan baju. Lantai rumah cukup beralaskan semen, bukan porselin.

 

Saat kami berbincang, Wardi lebih menikmati tayangan televisi. Badannya terlihat kurus, namun raut wajahnya tampak berseri. Dirinya juga mendapat bantuan dari Baznas. “Alhamdulillah bapak juga dapat, lumayan bisa untuk tambahan keperluan sehari-hari, juga untuk obat bapak,” tutup sang anak. (ful)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *