Surabaya — Lia Amalia (17 tahun) tidak mampu menahan tangis ketika ditanya apa yang akan disampaikan kepada ibunya, Dewi Puspawati (49). Gadis Kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan Gema Surabaya itu tak bisa mengungkapkan perasaannya atas perjuangan sang ibu agar ia dan kakaknya, Hasan Saiful Anam, tidak putus sekolah.

 

“Ucapan terima kasih ke ibu tidak cukup,” kata Lia sambil terisak-isak, ditemui Zakatuna di tempat jahit ibunya di Pasar Dukuh Kupang, Kecamatan Dukuh Pakis, Kota Surabaya beberapa waktu berselang . Di sana, ia menemani ibunya yang tengah bekerja sebagai penjahit.

 

Lia adalah anak kedua Dewi. Kakak Lia, Hasan, baru saja lulus dari sekolah yang sama dan kini sudah bekerja. Keduanya sama-sama memperoleh beasiswa dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Jawa Timur. “Setelah lulus nanti saya berencana kerja, ikut les, kemudian menabung untuk biaya kuliah,” ujar Lia mengungkapkan mimpinya.

 

Bagi Lia, keinginan kuliah adalah asa yang mahal. Maklum saja, ayahnya sakit-sakitan sejak tiga tahun lalu dan sudah tidak bekerja. Sejak itu, biaya hidup sehari-hari serta pendidikan diri Lia dan sang kakak bergantung ke ibunya, Dewi. “Saya sekarang tulang punggung keluarga,” kata Dewi.

 

Keluarga Dewi tinggal di sebuah indekos sempit di Jalan Dukuh Kupang 15/19B. Saat media ini ke sana, indekos Dewi berada di lokasi paling pojok, setelah melewati gang sempit yang membelah deretan indekos yang (maaf) jauh dari kondisi layak huni. “Kami tinggal berempat, saya, suami, dan dua anak saya. Saya tinggal di kos itu sudah sepuluh tahun,” cerita Dewi.

 

Awal menikah, Dewi mengaku bekerja di pabrik, sementara suaminya berdagang. Sejak tiga tahun lalu, suaminya sakit parah dan tidak bisa bekerja lagi. Mulanya diserang penyakit kecetit, belakangan diketahui menderita penyakit lambung dan paru-paru. “Pernah opname, tapi sekarang suami saya pakai minuman herbal, karena tidak ada biaya,” ucap perempuan kelahiran Jawa Barat itu.

 

Sejak itu, Dewi berjuang sendiri mengais rezeki untuk biaya hidup sehari-hari dan sekolah dua anaknya. Ia menyewa sebuah stan di Pasar Dukuh Kupang dan membuka jasa permak dan menjahit. Penghasilannya tak pasti. “Kadang pulang bawa uang seratus ribu, kadang cuma sepuluh ribu, pernah juga pulang tidak bawa uang sama sekali,” ujarnya.

 

Dewi ingin kedua anaknya bisa kuliah dan masa depannya sukses. Tapi dia bersyukur sudah bisa menyekolahkan anaknya sampai tingkat menengah atas. Hambatan biaya tentu sering ditemui. Di antaranya saat Lia mau ikut ulangan pada awal Desember 2019 lalu. “Biaya ulangan (ujian) tiga ratus ribu rupiah lebih, saya tidak ada uang,” ucapnya.

 

Dewi kemudian bergegas ke kantor BAZNAS Jatim di kompleks Islamic Center Surabaya di Jalan Dukuh Kupang. Ia ingin memastikan apakah anak keduanya bisa memperoleh beasiswa dari institusi penyalur zakat itu. “Alhamdulillah dapat dan anak saya bisa ulangan,” tutur Dewi.

 

Dewi mengaku pasrah hidup jauh dari kebahagiaan sejak lama hingga kini di usia hampir 50 tahun. Tapi dia akan sangat bahagia jika kedua anaknya kelak meraih mimpi kuliah dan sukses. “Harapan saya sekarang cuma pada anak-anak. Saya sangat bahagia kalau anak-anak saya sukses, bahagia dengan pasangannya nanti,” pungkas Dewi. (Nur Faishal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *