Mimpi Sulhan meraih gelar magister tercapai. Lahir dari keluarga petani sederhana di pelosok Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Madura, 1989 silam, rasanya tidak mungkin jika mengandalkan biaya sendiri. Tapi tekad dan semangat kuat menuntunnya pada jalan lapang. Di antaranya membuka pintu beasiswa dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

 

“Saya lahir di pedalaman di Sumenep, aga susah aksesnya karena memang desa saya, Desa Rajun di Kecamatan Pasongsongan, ada di daerah terpencil,” kata Sulhan kepada media ini lewat saluran gawai yang dimiliki.

 

Sulhan menempuh Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Tsanawiyah di desanya. Setelah itu, ia melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri Sumenep.

“Background keluarga saya pesantren, saya satu-satunya di keluarga yang menempuh pendidikan formal. Sebelum-sebelumnya di pendidikan pesantren tradisional semua,” ujarnya.

 

Pada 2009, Sulhan lulus tes di Universitas Brawijaya Malang. Namun, studinya hanya sampai semester dua karena masalah administrasi dari sekolah asal sehingga gagal memperoleh beasiswa.

“Saat itu saya tidak ingin membebani orang tua dengan melanjutkan dan biasa sendiri. Sehingga saya memilih keluar dari Universitas Brawijaya,” tuturnya.

 

Sulhan kembali ke pesantren dan membantu mengajar dan belajar kitab-kitab kuning di sebuah pondok pesantren di desanya, Darul Istiqomah. Pada 2010, ia mendapatkan beasiswa program guru Madrasah Diniyah dari Pemerintah Provinsi Jatim dan berkuliah S1 di Fakultas Pendidikan Agama Islam Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien, Prenduan, Sumenep.

“Saya lulus tahun 2014,” katanya.

 

Sulhan tidak puas. Ia ingin melanjutkan studinya ke jenjang berikutnya, S2. Ia sempat berkonsultasi soal beasiswa dan menemui langsung Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya kala itu, Profesor Abdul A’la. Namun, peluangnya untuk S2 di UINSA tidak terbuka.

“Saya sempat kecewa saat itu,” ungkapnya.

 

Tapi Sulhan tidak patah arang. Dari penelusuran di internet, ia memperoleh informasi beasiswa program kaderisasi seribu ulama oleh BAZNAS untuk kuliah S2 dan S3. Ia coba mendaftar. Waktu itu, batas akhir pendaftaran tinggal dua hari, sementara Sulhan belum mengumpulkan semua persyaratan administrasinya karena bertepatan dengan hari libur.

 

Ia meminta waktu tambahan ke pihak BAZNAS. Alhamdulillah, dikabulkan.

“Waktu mau berangkat ke BAZNAS di Jakarta, saya menemui problem karena tidak punya uang sama sekali. Kira-kira waktu itu butuh dua juta rupiah. Akhirnya saya menghubungi guru-guru MAN saya yang peduli. Jadi, saya diberi uang saku dan sebagian akomodasi dari mereka,” cerita Sulhan.

 

Singkat cerita, Sulhan berhasil mendapatkan beasiswa dari BAZNAS. Ia melanjutkan studi S2 PGMI di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pada 2014 dan lulus dua tahun kemudian.

“Saat itu (kuliah di UIN SUKA), saya juga sambil menjadi asisten dosen di (Fakultas Tarbiyah) UIN SUKA, dan jadi asisten profesor di UGM (Universitas Gajah Mada),” kenangnya.

 

Di UGM, Sulhan dipercaya menjadi asisten Profesor Abdul Ghofur Anshori, pakar hukum Islam. Kebetulan, Sulhan mahir di bidang kitab-kitab yang dipelajari selama di pesantren, sehingga kemampuannya dibutuhkan. “Saya biasanya jadi teman diskusinya beliau, teman beliau untuk persiapan membuat lecturing (kuliah),” ungkapnya.

 

Lulus S2, Sulhan kembali pulang dan mengabdi di daerah kelahiran. Ia mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni, Tarate, Sumenep. Di sana, ia sempat menjadi Kepala Program Pendidikan PGMI.

“Saya juga pernah mengajar satu semester di almamater saya di IDIA (Al Amien),” ucapnya.

 

Di BAZNAS, Sulhan juga ikut berperan selepas menjalani studi S2. Pada 2018 sampai 2019, ia berkontribusi sebagai executive development dan bertugas di Nusa Tenggara Timur. Sebetulnya, melalui BAZNAS, ia berharap bisa berkontribusi untuk pengembangan di Jatim, namun hal itu belum tercapai. (Nur Faishal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *