Sampang — Indeks Pembangunan Manusia atau (IPM) di Kabupaten Sampang, adalah terendah bahkan menduduki peringkat bawah dibandingkan daerah lain di wilayah Jawa Timur. Karena itu diperlukan ikhtiar sungguh-sungguh dari berbagai kalangan untuk mendongkrat hal ini. Dan BAZNAS mencoba untuk turut memberikan sumbangsih.

Penegasan disampaikan H Faidhal Mubarak ketika dihubungi ZAKATUNA di kantornya beberapa waktu berselang. “Sekadar dikatahui bahwa berdasarkan informasi dari Kepala Bidang Sosial Budaya Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Sampang, jika di bandingkan dengan kabupaten lain se-Jawa Timur, Sampang adalah daerah paling rendah IPM-nya, “ kata pria kelahiran Sumenep, 22 September 1966 ini.

Menurut Ketua BAZNAS Sampang tersebut, IPM merupakan gambaran pencapaian tingkat kesejahteraan masyarakat. Faktor masih rendahnya IPM di Sampang di sebabkan hal kesehatan, pengetahuan, dan kemampuan ekonomi rumah tangga. Termasuk tingginya angka buta huruf serta angka putus sekolah. Sedangkan untuk IPM tergolong tinggi dikarenakan pendidikan di daerahnya terkait ada peningkatan, serta harapan hidup yang cukup mengalami kenaikan, dan daya jual beli yang cukup meningkat.

Selain itu, H Faidhal menambahkan IPM di Kabupaten Sampang meskipun paling rendah se-Jatim, namun tahun ini ada peningkatan meski tidak signifikan. “Kemungkinan memang bergeser, meskipun angkanya tidak terlalu menggembirakan,” ungkap Dewan Pengasuh Pesantren Fatihul Ulum, Prajan Camplong Sampang tersebut.

 

Dari Dana Bergulir Hingga Jaga Amanah

Kontentrasi yang dilakukan BAZNAS Sampang sebagaimana harapan dari BAZNAS Jawa Timur adalah menyapa para fuqara. “Hal ini memang menjadi perhatian pertama kami sebagaimana diharapkan dari BAZNAS Jatim ketika memberikan pengarahan,” katanya.

H Faidhal mengemukakan bahwa untuk memberikan perhatian kepada kalangan ini, memang harus dilakukan pendataan dan pemantauan secara cermat. “Kami harus memastikan bahwa kalangan yang dibantu memang adalah mereka yang tidak memiliki penghasilan tetap, bahkan hidup memang tidak produktif,” ungkapnya.

Data para fuqara didapatkan dari sejumlah kepengurusan di desa dan kecamatan serta melibatkan sejumlaj relawan, termasuk dari organisasi sosial kegamaan seperti NU dan Muhammadiyah dan sejenisnya. Kemudian data yang ada diverifikasi untuk kemudian dilakukan pemantauan sesuai alamat.

H Faidhal menjelaskan, masih sangat banyak anggota masyarakat yang hidup di bawah kemiskinan. Kondisi tersebut diperparah dengan kurang pedulinya anggota keluarga terhadap mereka yang telah berusia senja dan tidak produktif. “Padahal sebenarnya mereka punya saudara, namun ternyata tidak peduli,” ungkapnya.

Yang juga dilakukan BAZNAS Sampang adalah memberikan pinjaman dana kepada kelompom mpengajian yang memiliki usaha sampingan. Ada komunitas masjid, mushala dan pengajian yang mendapat perhatian berupa pinjaman modal.

“Kini masih ada tiga kelompok yang kami bantu berupa modal secara bergulir,” jelas sarjana bimbingan konseling FKIP Undar Jombang ini. Mereka secara berkelompok menyepakati bantuan modal untuk usaha yang digeluti, serta harus dikembalikan dalam tempo yang telah ditentukan.

Karena sifatnya modal lunak, maka pihak BAZNAS tidak mewajibkan anggota dan kelompok untuk mengembalikan dana lebih. Asalkan dikembalikan sesuai angka yang diterima, tentu sangat baik yang kemudian digulirkan kepada anggota lainnya,” terangnya.

H Faidhol mengemukakan bahwa hingga kini masyarakat sangat membutuhkan tambahan dana namun terkendala dengan aturan yang menjerat. “Di salah satu koperasi misalnya, pinjang satu juta, namun bunganya lumayan besar,” keluhnya. Karena itu, keberadaan pinjaman bergulir dengan tanpa bunga tersebut menjadi solusi agar usaha warga tetap berkembang, lanjutnya.

Yang juga menjadi perhatian BAZNAS Sampang adalah memperbaiki gizi para pelajar. “Kami menginisiasi kegiatan di sejumlah sekolah untuk memberikan makanan tambahan selama sekali dalam sepekan berupa susu dan nasi bungkus,” katanya. Dan gerakan ini akhirnya menjadi kegiatan kolektif yang dibantu oleh warga sekitar.

Di MI Asarus Salafi, Rodalam, Campong misalnya, hal tersebut menjadi kebiasaan rutin. Yang mana dalam sepekan, disediakan susu dan makanan tambahan untuk mendongkrak asupan vitamin bagi para pelajar. “Alhamdulillah gerakan mendapat respons positif dari warga sehingga tidak sedikit yang datang menyumbangkan makanan tambahan saat ke sekolah,” bangganya.

Hal yang membagggakan dari BAZNAS Sampang adalah, beberapa waktu berselang telah dipercaya oleh Polres setempat untuk mengelola dana zakat, infak dan sedekah. Tidak semata menerima uang tunai yang diubah menjadi sembilan bahan pokok, juga sejumlah kegiatan sosial dalam waktu dekat.

“Kami menerima sekitar 47 juta rupiah dari Kapolres Sampang yang kemudian dibelanjakan untuk kebutuhan sembako. Kemudian warga diundang untuk menerima bantuan tersebut,” jelasnya.

Dan dalam waktu yang tidak lama, akan dilakukan bedah rumah sekaligus memberikan bantuan listrik tenaga surya.  “Kebetulan Kapolres Sampang pernah bertugas di Trenggalek yang juga memiliki perhatian terhadap kegiatan sosial,” ungkapnya. Salah satu yang dilakukan adalah dengan melakukan bedah rumah dan memberikan bantuan listrik tenaga surya kepada penduduk yang kekurangan.

Pada saat yang sama, BAZNAS Sampang juga terus melakukan komunikasi kepada pemerintah setempat agar semakin banyak dana yang bisa diterima dan dikelola untuk kepentingan warga.

“Tentu menerima amanah ini tidak mudah, tapi harus diwujudkan dengan mendistribusikan sesuai kepercayaan yang diberikan. Dan kami ingin memastikan bahwa segala yang dipercayakan tepat sasaran,” pungkasnya. (Nur Faishal/Syaifullah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *